PUSAT PENGEMBANGAN PUSTAKAWAN

"Mewujudkan Pustakawan Professional Sesuai dengan Jenjang Jabatannya"
daftar forum | lupa password
Dengan mendaftar sebagai pengguna,
Anda akan dapat mengakses beragam fitur dalam situs ini,
di antaranya: jurnal online, forum diskusi
diposting oleh: HendraSetiawan

ASESMEN MANDIRI

APA ITU ASESMEN MANDIRI?

Asesmen mandiri adalah proses  melihat diri sendiri untuk menilai aspek yang penting pencapaian komptensi seseorang. Dalam Competency Based Training (CBT) dan Competency Based Assessment (CBD) adalah salah satu bentuk partisipasi peserta dalam proses asesmen untuk menyatakan tingkat kompetensi secara mandiri terhadap elemen dan kriteria unjuk kerja dari suatu standar kompetensi dan memberikan bukti-bukti berkualitas.

Meskipun sebagian orang menyebut asesmen mandiri sebagai asesmen yang subjektif dan menuntut kejujuran yang tinggi serta merupakan bukti asesmen lainnya, namun dengan struktur perangkat asesmen mandiri yang baik dapat dijaga kualitasnya sebagai bukti kompetensi awal. Perangkat asesmen mandiri harus: berisikan pertanyaan yang merefleksikan rincian dan aplikasi keselurhan dari satu unit kompetensi, elemen dan kriteria  unjuk kerja dengan kontekstualisasi sesuai batasan variabel, panduan penilaian, kompetensi kunci atau skill for emloyability, dan konteks tempat kerja peserta; struktur asesmen mandiri yang baik meminta peserta untuk menuliskan dan melampirkan bukti-bukti pengalaman kerja, produk/jasa yang dihasilkan, pendidikan dan pelatihan, maupun bukti-bukti akan diases oleh asesor kompetensi. Asesmen mandiri ini diidentifikasi sebagai bentuk bukti yang cepat, convenient dan hemat biaya, dan ini merupakan metode terbaik untuk menngumpulkan informasi mengenai pembelajaran formal, non-formal dan informal dari peserta. Asesmen mandiri ini dikategorikan sebagai bukti tambahan, sehingga asesmen mandiri tidak dapat dijadikan untuk kecukupan bukti untuk membenarkan kompetensi peserta secara terpisah tanpa ada bukti lainnya.

TUJUAN ASESMEN MANDIRI

Untuk memonitor pencapaian hasil pembelajaran baik melalui pendidikan/pelatihan formal dan non formal secara mandiri bagi peserta didik maupun pengajar dalam lembaga pendidikan/pelatihan berbasis kompetensi, serta memastikan partisipasi riil peserta untuk mengikuti asesmen dan bukti awal asesmen dalam sertifikasi kompetensi. Dengan kata lain, pada Competency Based Training) diakhiri dengan asesmen mandiri, sedangakan Competency Based Assessment diawali dengan asesmen mandiri.

MANFAAT ASESMEN MANDIRI

Bagi Peserta, membantu pencapaian pembelajaran baik dari tempat pendidikan/pelatihan dan pengalaman di tempat kerja; membantu peserta dalam mengumpulkan bukti-bukti berkualitas sebelum asesmen baik dalam pelatihan, recognition pair learning, appraisal maupun sertifikasi.

Bagi asesor, sebagai perangkat asesmen untuk mengumpulkan bukti awal yang cepat, convenient, dan hemat biaya; merupakan metode terbaik untuk mengumpulkan informasi mengenai pembelajaran formal, non-formal dan informal dari peserta.

Bagi lemdiklat, membantu dalam perencanaan pelatihan untuk mencapai tingkat kompetensi; membantu memastikan pencapaian peserta didik akan pencapaian kompetensi dalam evaluasi pada setiap sesi; membantu memastikan tercapainya efisiensi dalam pengembangan program diklat; membantu memastikan pencapaian hasil diklat yang tinggi; memberikan kesiapan peserta didik menuju asesmen dan sertifikasi kompetensi profesi.

MENGEMBANGKAN PERANGKAT ASESMEN MANDIRI

Dalam mengembangkan perangkat asesmen ada beberapa langkah utama yaitu:

Menentukan fokus perangkat asesmen mandiri, lakukan identifikasi kelompok target, tujuan, konteks, benchmark asesmen diidentifikasi/diklarifikasi; lakukan identifikasi konteks peserta, tempat kerja, batasan variabel dan panduan penilaian.

Menentukan bentuk perangkat asesmen, bentuk perangkat asesmen dapat disusun dengan mengembangkan pertanyaan berdasarkan elemen dan kriteria unjuk kerja dengan memperhatikan batasan variabel dan panduan penilaian, yang dikenal dengan FR-APL-02. Formulir Asesmen Mandiri; bentuk perangkat asesmen dapat pula disusun pertanyaan-pertanyan indikator kompetensi yang mampu telusur dengan elemen, kriteria unjuk kerja, batasan variabel dan panduan penilaian dari standar kompetensi. Bentuk ini banyak digunakan pada kelembagaan pendidikan dan pelatihan.

Menentukan bentuk keputusan penilaian mandiri, bentuk keputusan dapat dibuat dengan keputusan menilai diri sendiri dengan menjawab pertanyaan kompeten dan belum kompeten, bila peserta menyatakan kompeten maka harus menyatakan dan melampirkan bukti-bukti berkualitas, dan bila belum kompeten peserta dapat menuliskan perlakuan lebih lanjut yang diinginkan (menambah jam terbang atau re-training); bentuk keputusan dapat dibuat pula dengan scoring dengan membuat skala hedonic 1-9 atau 1-5) dalam kisaran novice, competent dan expert dengan pertanyaan deskriptif; susun petunjuk pengisian perangkat asesmen mandiri.

Validasi perangkat asesmen mandiri, evaluasi draf perangkat asesmen mandiri berdasar prinsip-prinsip asesmen, dan tarceabilitynya terhadap unsur-unsur standar kompetensi; ujicoba perangkat asesmen yang dapat dilakukan dengan uji coba kepada asesor dan peserta, peer reviewworkshop asesor dan pemangku kepentingan yang relevan atau penilaian dari ahli.

Tabel berikut dalah contoh instruksi kerja dalam meminta peserta untuk melakukan asesmen mandiri:

  • Jelaskan maksud dan tujuan asesmen mandiri: membantu peserta berpartisipasi dalam penilaian dirinya sendiri, membantu mengidentifikasi bukti-bukti yang dimiliki, dan membantu peserta menyatakan dirinya kompeten atau belum kompeten secara jujur.
  • Jelaskan instruksi dan bagian-bagian formulir APL-02.
  • Berikan waktu untuk asesmen mandiri 30-60 menit.
  • Identifikasi bukti-bukti yang berkualitas
  • Berikan rekomendasi: dapat dilanjutkan untuk asesmen  (bila seua sudah K) atau apabila ada yang BK rekomendasi retraining bila kekurangannya adalah akurasinya, dan/atau menambah pengalaman di bawa supervisi bila kekurangan persisinya; Apabila bukti tidak cukup, rekomendasikan untuk melengkapi lebih dulu.