Hubungi Kami

Jl. Salemba Raya 28A Jakarta Pusat 10430, Indonesia
0800 1737787     pustakawan.perpusnas.go.id
Menghadapi Virus Corona, Pustakawan Bisa Apa?
Ditulis Oleh: Mariska Duwi Arifin Putri (MDAP)

Jakarta, 22 April 2020 – Virus corona menjadi salah satu pandemi paling berbahaya baru-baru ini. Virus ini telah menyebar secara masif dihampir seluruh belahan dunia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Lockdown (karantina wilayah), Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau Social Distancing, hingga Work From Home bagi seluruh ASN (PNS dan PPPK) dan pegawai swasta telah diterapkan diberbagai daerah. Hal ini adalah bentuk usaha pemerintah untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran Virus Corona.

Ditengah pandemi virus corona, pustakawan bisa apa? Pustakawan sebagai profesional informasi seharusnya dapat menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanganan virus ini. Selain dalam bentuk informasi, pustakawan dapat terjun langsung dalam mencegah dan mengedukasi masyarakat. Terutama dalam upaya mencegahan virus corona di lingkungan sekitar tempat kita bekerja. Seperti halnya yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional RI. Pustakawan di Perpustakaan Nasional RI tidak hanya aktif dalam memberikan informasi kepada masyarakat mengenai virus corona, tetapi beberapa pustakawan terpilih juga didapuk menjadi “Kader Kesehatan Perpustakaan Nasional RI”. Peran dan fungsi kader kesehatan ini sebenarnya sangat penting mengingat Perpustakaan Nasional RI merupakan salah satu fasilitas publik yang dikunjungi oleh ribuan orang setiap harinya. Tak hayal, tindakan preventif guna mencegah virus corona sangat diperlukan guna memutus rantai menyebaran virus berbahaya ini.

Kader kesehatan Perpustakaan Nasional RI dibentuk pada tanggal 11 Maret 2020 yang ditandai dengan diberikannya Pelatihan Kader Kesehatan di Lingkungan Perpustakaan Nasional RI. Kader kesehatan yang dilatih berjumlah 100 orang yang terdiri dari pegawai dan mayoritas pustakawan yang ada di Perpustakaan Nasional RI. Pada pelatihan tersebut dijelaskan secara rinci mengenai virus corona, cara penyebarannya, cara pencegahannya, cara penanggulangannya, hingga cara menyampaikannya kepada masyarakat terutama di lingkup Perpustakaan Nasional RI.  Kader kesehatan yang dipilih merupakan pilihan dan usulan dari pejabat terkait yang dianggap memenuhi kriteria “Positif, Objektif, Komunikatif, Berpenampilan Menarik”. Untuk Pusat Pengembangan Pustakawan telah dipilih Mariska Duwi Arifin Putri sebagai kader kesehatan mewakili Bidang Pengkajian dan Pengembangan Pustakawa dan juga Solikhatun yang mewakili Bidang Akreditasi Pustakawan.

Masing-masing kader kesehatan diberikan pelatihan dan terus dimonitoring tentang cara mencegah penyebaran virus corona di lingkungan Perpustakaan Nasional RI. Para kader kesehatan dibekali thermometer infrared, sarung tangan pelindung, masker, dan vitamin. Secara bergantian para kader kesehatan diberikan jadwal piket di titik-titik yang menjadi pintu masuk mayoritas pegawai dan pemustaka yang datang. Piket dilakukan dengan screening atau pengecekan suhu pada semua orang yang masuk di lingkungan Perpustakaan Nasional RI. Pegawai dan pemustaka yang memiliki suhu badan dibawah 38 derajat selsius dan tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus corona, maka akan diberikan stiker yang menjadi tanda bahwa dirinya sehat. Namun, jika saat di screening pegawai memiliki suhu tubuh diatas 38 derajat selsius dan menunjukkan gejala-gejala terinfeksi virus corona, maka yang bersangkutan akan langsung diarahkan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa.

Adanya kader kesehatan di Perpustakaan Nasional RI menjadi salah satu kegiatan preventif yang cukup positif dalam menghadapi virus corona. Dampak positif dari adanya kader kesehatan dibuktikan dengan tidak adanya pegawai yang terjangkit virus corona di lingkungan Perpustakaan Nasional RI. Hal ini mengindikasikan bahwa kader kesehatan yang mayoritas pustakawan mampu berperan maksimal dalam mencegah penyebaran virus corona di lingkungan Perpustakaan Nasional RI. Pustakawan dianggap memiliki peran ganda, multitasking , dan serba bisa. (MDAP)