Hubungi Kami

Jl. Salemba Raya 28A Jakarta Pusat 10430, Indonesia
0800 1737787     pustakawan.perpusnas.go.id
PENGEMBANGAN KOMPETENSI PUSTAKAWAN DENGAN MOTIVASI DAN SERTIFIKASI
Ditulis Oleh: A Priangga

Jakarta - 19 September 2019

Sertifikasi merupakan pembuktian atas kompetensi kerja yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapannya secara efektif dalam pekerjaan sesuai dengan standar kinerja yang dipersyaratkan. Hal itu diungkapkan oleh Yudho Widhiatmono saat menjadi pembicara dalam kegiatan Lokakarya Pustakawan di Teater Perpustakaan Nasional Salemba, Kamis (19/9) yang dihadiri oleh 130 orang pustakawan Perpusnas dari berbagai jenjang jabatan.

Mengangkat materi berjudul “Upaya Pengembangan Diri Pustakawan melalui Sertifikasi Kompetensi”, Pustakawan Ahli Muda tersebut pun menjelaskan sertifikasi kompetensi sebenarnya dilatarbelakangi oleh digagasnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 1977, yang mensyaratkan setiap profesional dapat berkiprah dimana saja, baik dalam negeri maupun luar negeri termasuk pertukaran profesional antar negara di Asia Tenggara. Pemerintah menindaklanjuti dengan menerbitkan UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menjadi ikhwal dibentuknya lembaga independen yang bertugas mensertifikasi berbagai profesi di Indonesia, yakni Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Di 2006, dalam ASEAN Summit disusunlah blueprint pelaksanaan MEA untuk tahun 2015. Menghadapi hal tersebut, Perpustakaan Nasional RI bersama para stakeholder menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perpustakaan dan ditetapkan sebagai Peraturan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI pada tahun 2012. SKKNI ini yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan sertifikasi Pustakawan oleh LSP.

Tidak hanya itu, Yudho pun memaparkan bagaimana prosedur sertifikasi, surveilan dan pentingnya manfaat sertifikasi bagi pustakawan. Diantara manfaat tersebut yaitu membantu pengakuan kompetensi lintas sektor dan lintas negara. Perlu diingat sejak 2015 lalu MEA sudah bergulir, pasar tenaga kerja sudah terbuka. Tenaga profesional dari negara-negara tetangga pun mulai berdatangan mengadu peruntungan di negara kita. Termasuk juga Pustakawan dan Kepala Perpustakaan. Beberapa Perpustakaan Perguruan Tinggi swasta kini dipimpin oleh profesional asing. Hal ini laiknya menjadi perhatian khusus, terutama bagi para pustakawan dalam menghadapi tantangan tersebut dengan mengembangkan kompetensi diri. Terlebih lagi kini kita berada di era Industrial 4.0 dan Society 5.0, tidak hanya bersaing dengan sesama manusia namun juga dengan mesin dan teknologi. Refleksi bagi pustakawan semua, sudahkah kita kompeten? Mengikuti sertifikasi dapat menjadi salah satu jawaban.

Tak kalah penting di kesempatan yang sama selaku pembicara kedua, Wuri Setya Intarti, Pustakawan Ahli Madya, membawakan materi berjudul “Motivasi Salah Satu Modal Dasar Membangun Institusi”. Dibuka dengan menampilkan tayangan singkat tentang motivasi, Wuri melanjutkan dengan membagikan tips kepada rekan-rekan yang hadir untuk menjadi pustakawan termotivasi dengan kriteria: Tingkatkan kepercayaan diri; Pentingnya kontribusi diri; Tunjukan potensi diri; Optimisitis: dan Langkah menuju sukses.

Sesi berikutnya diisi dengan diskusi dan tanya jawab yang aktif. Manajemen talenta yang disampaikan di awal oleh pembicara menjadi bahasan hangat, erat kaitannya dengan prestasi kinerja pegawai dan kesempatan mendapatkan apresiasi dari instansi yang saat ini dirasa belum optimal. Peserta lain mengharapkan adanya diklat persiapan bagi peserta asesi yang akan mengikuti sertifikasi dan pentingnya pemberitahuan secara sistemis kepada para pemegang sertifikat sebelum masa aktif habis agar dapat diperpanjang kembali. Semoga acara Lokakarya Pustakawan ini semakin baik kedepannya sebagai wadah aspirasi pustakawan Perpusnas. (AP)