Hubungi Kami

Jl. Salemba Raya 28A Jakarta Pusat 10430, Indonesia
0800 1737787     pustakawan.perpusnas.go.id
Chandra Pratama Setiawan, Penerima IFLA Atau OCLC Fellowship 2018 dari Indonesia
Ditulis Oleh: Isti Sulastari

Sumber gambar: Fellowship program brochure oleh OCLC

 

Jakarta, 4 Juni 2020 -- Banyaknya tantangan yang kini hadir semakin menuntut pustakawan untuk terus mengupgrade kompetensi diri. Kompetensi diri pustakawan dapat ditingkatkan dengan dengan cara, diantaranya dengan mengikuti seminar, kursus, menempuh pendidikan formal, dan lain sebagainya. Salah satu program pendidikan untuk para pustakawan yang bergengsi di dunia adalah Jay Jordan IFLA/OCLC Early Carreer Development Fellowship Program yang biasa disingkat IFLA/OCLC Fellowship Program. Program yang disponsori oleh The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) dan OCLC ini menyediakan pengembangan karir awal dan pendidikan berkelanjutan selama 4 minggu bagi professional di bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang berasal dari negara-negara dengan ekonomi berkembang.

            Dikutip dari halaman website OCLC, IFLA/OCLC Fellowship Program telah diselenggarakan dari tahun 1999 dan hingga saat ini sudah diikuti oleh hampir 95 pemimpin perpustakaan yang berasal dari 42 negara. Melalui program ini, para peserta diberikan kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan para praktisi, mengunjungi perpustakaan, pembimbingan, dan mengeksplorasi topik terkait dengan teknologi informasi, manajemen perpustakaan dan organisasi kepustakawan secara global. Di samping itu, program ini memberikan wadah antar peserta untuk berbagi pengetahuan dengan memberikan kesempatan peserta untuk mempresentasikan tentang negara asal dan perpustakaan mereka, serta mendiskusikan solusi untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi perpustakaan saat ini. Kemudian, penerima beasiswa menafsirkan pembelajaran dan pengalaman tersebut ke dalam perencana pengembangan professional spesifik yang membimbing/memandu pertumbuhan berkelanjutan untuk mereka serta kontribusi pribadi mereka ke lembaga dan negara asal mereka.

Berdasarkan penelusuran penulis, terdapat 3 orang pustakawan Indonesia yang berhasil mengikuti program ini selama penyelenggaraannya pada tahun 2001-2019. Pustakawan Indonesia yang berhasil mengikuti program tersebut dimulai dari Ferry Irawan pada tahun 2002, kemudian Salmubi tahun 2006. Dan terakhir setelah vakum selama 12 tahun, Chandra Pratama Setiawan berhasil lulus seleksi 2018 dan mengikuti program ini pada tahun 2019.

            Chandra Pratama Setiawan adalah pustakawan di Universitas Kristen Petra. Saat ini, Chandra menempati posisi sebagai Kepala Pengadaan dan Pengolahan Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Setelah melewati proses seleksi administratif dan dilanjutkan tahap interview, Chandra berhasil terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa IFLA/OCLC Jay Jordan Fellowship Program 2018 dan berhak mengikui program ini secara intensif selama 4 minggu, yakni dari tanggal 17 Maret hingga 13 April di Dublin, Ohio, Amerika Serikat. Dengan mendapatkan grant senilai $10.000, pria yang genap berusia 32 tahun pada 3 Maret ini diberikan uang $100 setiap minggu yang digunakan untuk membeli makanan, sementara sisanya dikelola oleh pihak penyelenggara untuk keperluan transportasi, akomodasi, pelatihan, dan kebutuhan sehari-hari selama dalam program tersebut.

Selain ingin belajar tentang library management di Negara Manju, khususnya terkait dengan perpustakaan perguruan tinggi dan program untuk anak-anak di perpustakaan umum, motivasi Chandra mengikuti program ini juga untuk keep updating dengan library-tech yang digunakan di negara maju dan mengadopsinya guna pengembangan perpustakaan. Selain itu, motivasi Chandra lainnya yakni membangun networking dengan pihak luar; keep up to date dengan dunia kepustakawan; serta ingin mengalahkan/menggerser posisi negara Filipina yang sudah beberapa tahun terakhir diterima sebagai fellow di program ini.

            Berkat keterlibatannya dalam IFLA/OCLC Fellowship Program 2018, Chandra mendapatkan sejumlah pengetahuan tentang perpustakaan yang dapat diadaptasi di instansi asalnya. Hal ini dituangkan dalam Laporan IFLA/OCLC Jayjordan Fellowship Program 2018 yang dibuat oleh Chandra, ia menyampaikan hal apa saja yang dipelajarinya selama mengikuti program tersebut dan dari hal tersebut apa-apa saja yang dapat diadaptasi oleh oleh Perpustakaan Kristen Petra dan juga organisasi perpustakaan seperti FPTTI-Jatim dan Forkom PPTKI. Terdapat 21 poin yang dipelajari Chandra, berikut 3 poin dari 21 yang dijabarkan dalam laporan tersebut:

  1.         Menyediakan rak khusus untuk buku yang dipesan sehingga pengguna dapat langsung mengambil koleksi yang dipesan tanpa harus dating ke rak.
  2.       Menggunakan recognition card yakni kartu yang berfungsi untuk mengapresiasi rekan kerja dalam hal apapun, seperti mengucapkan terimakasih, memberikan selamat dan semangat.
  3.         Program Library Management System (disingkat LMS) termasuk online catalog di dalamya dapat menyadijan Top Loan Books.

Sementara itu, berikut 3 poin dari 13 poin dari usulan hal-hal yang dapat diadaptasi oleh Universitas Kristen Petra:

  1.         iSpektra yang merupakan LMS milik Universitas Kristen Petra disarankan dapat berbasis cload computing; dapat berinteraksi secara otomatis dengan pengguna (seperti mengucapkan selamat ulang tahun dan menginfokan koleksi yang terpopuler); mendukung union catalog maupun copy cataloguing; membuat database data keperanganan, membuat informasi khusus koleksi yang sereng dipinjau atau menentukan batas tertentu untuk penegcekan kondisi koleksi.
  2.          Memiliki layanan chat service, baik terintegarasi dengan website maupun melalui instant messeger.
  3.          Pustakawan mengikuti pelatihan atau seminar dalam rangka meningkatkan kemampuan scholarly communication, seperti  pelatihan terkait copyright, publishing, data management, dan research impact.

Dengan demikian, dapatlah dikonfirmasi bahwa program ini tidak hanya memberikan manfaat untuk pribadi penerima beasiswa tetapi juga intansi tempat peserta bekerja bahkan organisasi/instansi lainnya.  

            Sayangnya pada tahun 2019 kembali tidak ada pustakawan yang terpilih dari Indonesia sebagai penerima beasiswa program ini dan program ini pun tidak diselenggarakan pada tahun ini. Walaupun demikian, pustakawan tentunya tetap dapat mengupgrade kemampuan dirinya dengan program-program improvement lainnya. Semoga kisah Chandra dalam mengikuti program IFLA/OCLC Fellowship ini dapat menginspirasi dan memotivasi kita untuk terus meningkatkan kompetensi di tengah ketatnya persaingan dan tingginya tuntutan yang ada saat ini. Dan tidak lupa,  menjadikan peningkatan kompetensi tersebut sebagai alat untuk berkontribusi dalam memajukan perpustakaan.

           

 Sumber:

International Federation of Library Associations. (2018, January 15). Five librarians selected as 2018 IFLA/OCLC Fellows. https://www.ifla.org/node/22375

OCLC. (n.d,) The Jay Jordan IFLA/OCLC early career development fellowship program. https://www.oclc.org/en/about/awards/ifla-fellowship-program.html

OCLC. (2018). Fellowship program brochure. https://www.oclc.org/content/dam/oclc/services/brochures/212277-WWAE_IFLA-Fellows-Flier.pdf

Setiawan. C. P. (2019). Laporan program IFLA/OCLC Jayjordan fellowship program 2019.